Jumat, 28 November 2008

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang 'alim di Baghdad. Biaografibeliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail 'Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum diterjemahkan ke dalambahasa Indonesia. Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir AlJailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga denganKailan. Sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau AlKailani atau juga Al Jiliy. Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib,pada tanggal 9 Rabi'ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj. Beliaumeninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masihmuda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama' seperti Ibnu Aqil,Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra' dan juga Abu Sa'ad Al Muharrimi. Beliaubelajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan jugaperbedaan-perbedaan pendapat para ulama'. Suatu ketika Abu Sa'ad AlMukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama BabulAzaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh AbdulQadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh.Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang adatersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasehat beliau.Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau.Sehingga sekolah itu tidak kuat menampungnya. Maka, diadakan perluasan.Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama' terkenal. Seperti Al HafidzAbdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. JugaSyeikh Qudamah penyusun kitab figh terkenal Al Mughni.

Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir,beliau menjawab, " kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masakehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatianterhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untukmenyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalatfardhu." Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulansembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh AbdulQadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. 1) Beliau adalah seorang'alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenalbanyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yangmembuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupakisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, "thariqah" yang berbedadengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantara perkataanImam Ibnu Rajab ialah, " Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yangdiagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik 'ulama danpara ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi adaseorang yang bernama Al Muqri' Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri ( orangMesir ) 2) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh AbdulQadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkarayang aneh dan besar ( kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jikadia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini,tetapi hatiku tidak tentram untuk beregang dengannya, sehingga akumeriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telahmansyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisiriwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkarayang jauh ( dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan danperkataan yang batil tidak berbatas.3) semua itu tidak pantas dinisbatkankepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkanbahwa Al Kamal Ja'far Al Adfwi4) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufisendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitabini."5) Imam Ibnu Rajab juga berkata, " Syeikh Abdul Qadir Al Jailanirahimahullah memiliki pendapat memiliki pendapat yang bagus dalam masalahtauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengansunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yangterkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnyamengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat darimajelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, iaberpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orangyang menyelisihi sunnah ." Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalamkitabnya, Al Ghunyah, " Dia ( Allah ) di arah atas, berada diatas 'arsyNya,meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu." Kemudianbeliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata " Sepantasnyamenetapkan sifat istiwa' ( Allah berada diatas 'arsyNya ) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan istiwa' dzat Allahdiatas arsys."6) Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir AlJailani, " Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali ( kekasih ) yang tidakberada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?" Maka beliau menjawab, "Tidak pernah ada dan tidak akan ada."7)

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan olehSyeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itumenunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhajSalaf.

Sam'ani berkata, " Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kotaJailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhabini pada masa hidup beliau."

Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalamSiyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,"Lebihdari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratusribu orang telah bertaubat."

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatanSyeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akanbekiau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapatkritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagianperkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau."( Siyar XX/451 ).

Imam Adz Dzahabi juga berkata, " Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikhyang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain SyeikhAbdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidakbenar bahkan ada yang mustahil terjadi ".

Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, " Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir AlJailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah.8) Maka aku mengetahuidia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifatAllah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantahkelompok-kelompok Syi'ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dankelompok lainnya dengan manhaj Salaf."9)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang 'alim Salafi, Sunni, tetapibanyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau.Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a'lambishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang 'ulama besar. Apabila sekarang inibanyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka suatukewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikanderajat beliau di atas Rasulullah n, maka hal ini merupakan kekeliruan.Karena Rasulullah n adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi danrasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailanisebagai wasilah ( perantara ) dalam do'a mereka. Berkeyakinan bahwa do'aseseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Inijuga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meningal sebagai perantara,maka tidak ada syari'atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yangberdo'a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do'amerupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah.Allah melarang mahluknya berdo'a kepada selain Allah,

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah.Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnyaDisamping ( menyembah ) Allah.( QS. Al-Jin : 18 )

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para'ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telahditetapkan syari'ah.

Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kitasehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email

 

Ka'bah Night | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id